Interview kerja bukan hanya soal perusahaan menilai kamu — kamu juga berhak menilai perusahaan. Sayangnya, banyak pencari kerja yang terlalu fokus ingin diterima sampai mengabaikan tanda-tanda bahaya yang sebenarnya sudah terlihat jelas sejak proses interview.
Artikel ini akan membahas red flag perusahaan yang wajib kamu waspadai agar tidak terjebak di lingkungan kerja yang toxic.
🚩 1. Proses Rekrutmen yang Tidak Jelas dan Berbelit
Tanda-tandanya:
- Tidak ada kejelasan timeline rekrutmen
- Kamu diminta interview berkali-kali tanpa progress
- Tidak ada konfirmasi email setelah melamar
- Job description berubah-ubah setiap tahap interview
Kenapa ini red flag?
Kalau proses rekrutmen saja sudah berantakan, bayangkan bagaimana sistem kerja di dalamnya. Perusahaan yang profesional menghargai waktu kandidat.
🚩 2. Interviewer Berbicara Buruk tentang Karyawan Lain
Jika pewawancara mengeluh tentang karyawan yang resign, menjelek-jelekkan tim, atau berkata hal seperti:
“Kita butuh orang yang kuat mental, soalnya banyak yang nggak kuat di sini”
Ini bukan tanda bahwa mereka butuh “orang tangguh” — ini tanda bahwa lingkungan kerjanya bermasalah.
🚩 3. Tidak Bisa Menjelaskan Job Description dengan Detail
Pertanyaan yang bisa kamu ajukan:
- “Seperti apa hari-hari biasa di posisi ini?”
- “Apa ekspektasi untuk 3 bulan pertama?”
- “Kepada siapa saya akan melapor?”
Kalau jawaban mereka vague atau berputar-putar, kemungkinan besar:
- Posisi ini baru dan belum terstruktur
- Kamu akan mengerjakan “apa saja” tanpa batasan jelas
- Manajemen tidak punya rencana yang matang
🚩 4. Menuntut Ketersediaan 24/7
Perhatikan kalimat-kalimat seperti:
- “Di sini kita seperti keluarga, jadi kadang weekend juga kerja”
- “Kamu harus bisa dihubungi kapan saja”
- “Kita butuh orang yang total, bukan yang jam 5 langsung pulang”
Ini bukan dedikasi — ini eksploitasi yang dinormalisasi. Perusahaan sehat menghargai work-life balance.
🚩 5. Gaji dan Benefit Tidak Transparan
Red flag besar kalau:
- Mereka menghindari pertanyaan soal gaji sampai tahap akhir
- Range gaji di iklan sangat lebar (misal: Rp 3-15 juta)
- Tidak ada kontrak kerja yang jelas
- Benefit dasar (BPJS, cuti) terasa seperti “bonus” bukan hak
Tips: Perusahaan yang percaya diri dengan kompensasinya tidak akan malu membahasnya.
🚩 6. Turnover Rate Tinggi
Cara mengeceknya:
- Tanyakan langsung: “Berapa lama rata-rata karyawan bekerja di sini?”
- Cek LinkedIn — apakah banyak mantan karyawan yang hanya bertahan < 1 tahun?
- Cek review di Glassdoor atau Jobplanet
Kalau posisi yang kamu lamar sudah ditinggalkan beberapa orang dalam waktu singkat, ada alasan di balik itu.
🚩 7. Diminta Kerja Gratis sebagai “Tes”
Ada perbedaan besar antara:
- ✅ Assignment/case study yang wajar (2-3 jam, soal generik)
- ❌ Kerja gratis berkedok tes (proyek nyata perusahaan, butuh berhari-hari, tanpa bayaran)
Kalau “tes” mereka adalah mengerjakan proyek yang langsung bisa dipakai perusahaan, kamu sedang dimanfaatkan, bukan diuji.
🚩 8. Budaya “Kekeluargaan” yang Berlebihan
Kalimat “Di sini kita seperti keluarga” kedengarannya hangat, tapi sering kali artinya:
- Batasan profesional kabur
- Sulit menolak permintaan di luar job desc
- Guilt-tripping kalau kamu memprioritaskan kehidupan pribadi
- Lembur tidak dibayar karena “kita kan keluarga”
Perusahaan yang sehat punya budaya profesional yang suportif, bukan kekeluargaan yang manipulatif.
🚩 9. Tidak Ada Pertanyaan dari Perusahaan tentang Kamu
Interview yang baik bersifat dua arah. Kalau pewawancara hanya berbicara tentang perusahaan tanpa bertanya tentang:
- Pengalaman dan skill kamu
- Apa yang kamu cari dalam pekerjaan
- Ekspektasi kamu
Bisa jadi mereka tidak peduli siapa yang mengisi posisi itu — yang penting ada yang mau. Ini biasanya tanda posisi yang sulit diisi karena masalah internal.
🚩 10. Tekanan untuk Memutuskan Cepat
“Kami butuh jawaban kamu hari ini”
“Kalau nggak terima sekarang, kami kasih ke kandidat lain”
Perusahaan profesional memberikan waktu 3-7 hari untuk kandidat mempertimbangkan tawaran. Tekanan untuk menerima segera biasanya karena mereka takut kamu akan melakukan riset dan menemukan kenyataan yang tidak menyenangkan.
Cara Melindungi Diri
Berikut langkah preventif sebelum menerima tawaran kerja:
- Riset perusahaan di Glassdoor, Jobplanet, atau Google Reviews
- Tanya karyawan atau mantan karyawan via LinkedIn
- Baca kontrak kerja dengan teliti sebelum menandatangani
- Percaya instingmu — kalau ada yang terasa janggal, biasanya memang janggal
- Jangan putus asa — lebih baik menunggu kesempatan yang tepat daripada terjebak di tempat yang salah
Kesimpulan
Mencari kerja memang tidak mudah, tapi bukan berarti kamu harus menerima apa adanya. Kamu berhak bekerja di tempat yang menghargai kamu — baik dari segi kompensasi, budaya kerja, maupun pengembangan karir.
Gunakan proses interview sebagai kesempatan untuk menilai perusahaan sama seperti mereka menilai kamu. Kalau red flag-nya sudah muncul dari awal, jangan ragu untuk mundur.
Cari perusahaan yang benar-benar menghargai karyawannya? Temukan lowongan dari perusahaan terpercaya di platform kami! 🛡️